10 Alasan Mengapa Kita Harus Kuliah Di Luar Negeri

beasiswa s2 luar negeri

Kedalaman pengalaman itu mungkin tak bisa kita dapatkan jika diam saja, tidak ke  mana-mana. Pun jika ada kesempatan jalan-jalan ke luar  negeri, pengetahuan yang sama tidak selalu bisa didapat  dengan traveling selama dua minggu ke beberapa negara atau  menghadiri konferensi internasional selama beberapa hari.  Akan tetapi, kan, kuliah ke luar negeri itu berarti jauh dari  rumah, biayanya mahal, mendaftarnya ribet, makanannya beda,  adaptasinya susah, belajarnya capek, dan terutama harus rela  "melepas" kehidupan kita saat ini.

Di dalam buku A Student Guide to Study Abroad (2013)  terbitan International Institute of Education (IIE) di Amerika  Serikat, ada sepuluh alasan kita perlu kuliah ke luar negeri.

1. Memperluas Pandangan Akan Dunia 

Wawasan kita jelas akan bertambah ketika mengunjungi tempat  baru. Tidak usah jauh-jauh, ketika kita pergi ke toko baru yang  berbeda dari tempat biasa kita belanja saja, akan ada tambahan  pengetahuan baru yang kita dapatkan. Kitajadi punya informasi  baru untuk dapat membandingkan harga, kualitas layanan,  dan kelengkapan produk dengan toko langganan. Terlebih lagi  ketika kita menetap di luar negeri untuk berkuliah. Pandangan  kita akan semakin luas. Kita pun akan menyadari bahwa dunia  ini bukan cuma Indonesia.

Penghuni bumi ini tidak hanya kita,  keluarga, teman-teman kantor, abang Ojek langganan, dan kucing peliharaan kita. Warna daun di atas pohon tidak hanya  berwarna hijau dan danau juga ada yang warnanya pink. Ternyata dunia itu luas sekali. Hidup terlalu singkat untuk  dihabiskan dengan nongkrong mencari wangsit di kamar  mandi, yang bahkan metode orang mandi pun ternyata tidak  hanya pakai gayung. Ada banyak cara berbeda dalam menjalani  kehidupan dan selama ini kita tidak mengetahuinya. Dengan  tinggal lama di tempat yang jauh berbeda dengan asal kita,  pandangan kita akan bertambah dan terbarukan. Kita pun akan jadi pribadi yang lebih terbuka dan toleran terhadap perbedaan.  Berbagai stereotip yang dahulu kita tempelkan pada budaya-  budaya tertentu bisa menjadi luruh setelah kita mengenalinya  lebih dekat.

2. Belajar Budaya Lain Secara Langsung  Dan Meningkatkan Kompetensi Lintas Budaya  

Tinggal di Melbourne setahun terakhir, kita belajar bagaimana  budaya ngopi di sini mengakar sangat kuat dan kafe nge-hip  berhamburan di pusat kota. Nama Starbucks kalah besar  jika dibandingkan dengan sederet kafe di gang-gang kecil di  kawasan Fitzroy dan Collingwood, agak ke pinggir sedikit dari  pusat Kota Melbourne. Warga di kota ini juga doyan sekali  makan sushi. Ada banyak sushi bar yang dimiliki oleh orang  Australia dan menunya pun dikreasi macam-macam, misalnya  dibentuk donat dan dibikin ala burrito.

 Selain itu, orang Australia hobi banget camping karena  lanskap alam yang dikaruniakan di benua ini indah sekali.  Acara berkemah sudah menjadi tradisi buat mereka. Setidaknya  sekali dalam setahun, terutama saat musirn panas, orang-  orang Australia berbondong-bondong mengunjungi lokasi  perkemahan dan menghabiskan beberapa malam di sana  bersama keluarga. Saat musim diskon akhir tahun, Anda akan  bisa melihat penduduk Australia berkerumun di toko yang  menjual peralatan berkemah. Australia juga memiliki olahraga  khas yang disebut Australian Footbal (sepintas mirip dengan  rugbi), dan masyarakatnya menggilai olahraga ini. Ada liga  tahunan besar-besaran untuk olahraga ini, sampai-sampai  di negara bagian Victoria hari grandfinal liga itu ditetapkan  sebagai Iibur nasional.

Nah, pengetahuan akan 3P budaya (products, practices,  perspectives) ini belum tentu bisa kita dapatkan dan alami  secara utuh jika hanya mengandalkan majalah, film, atau situs  wisata. Pengalaman berinteraksi dengan budaya setempatlah  yang dapat menambah wawasan kita.

3.  Belajar Tentang Negeri Dan Kampung Halaman Sendiri  

Surprisingly, pergi ke luar negeri membuat kita menjadi lebih  mengenali negeri sendiri. Coba, deh, amati ketika kita keluar  rumah. Ambil jarak yang cukup sehingga kita bisa melihat  rumah kita secara keseluruhan. Dengan jarak itu barulah kita  bisa menilai ternyata warna cat luar rumah kita sudah mulai  kusam. Beberapa pojokan tembok bernoda lumut hitam, dan  tamannya tampak tak terurus. Sama saja, berkuliah di luar  negeri bisa membuat kita menilai dan memahami negara kita  dengan lebih baik.

Surprisingly, pergi ke luar negeri membuat kita menjadi lebih  mengenali negeri sendiri. Coba, deh, amati ketika kita keluar  rumah. Ambil jarak yang cukup sehingga kita bisa melihat  rumah kita secara keseluruhan. Dengan jarak itu barulah kita  bisa menilai ternyata warna cat luar rumah kita sudah mulai  kusam. Beberapa pojokan tembok bernoda lumut hitam, dan  tamannya tampak tak terurus. Sama saja, berkuliah di luar  negeri bisa membuat kita menilai dan memahami negara kita  dengan lebih baik.

Negara yang kita tempati saat ini dapat dijadikan  pen-banding dalam memandang sebuah permasalahan, dan  dari situ mungkin kita bisa menemukan ujung masalahnya  ada di mana. Kita bahkan bisa membuat tugas kuliah menjadi  lebih mudah dengan menggunakan hasil pengamatan kita  tadi sebagai studi kasus saat menulis makalah. Memang saat  berada di kejauhan, kita justru bisa melihat sesuatu secara utuh  ketimbang menilainya saat tepat di depan mata.

4. Belajar Mengenali Diri Sendiri 

Langkah mantap kita saat memutuskan kuliah ke luar negeri  saja sudah merupakan bahan menarik untuk mengenali  diri sendiri lebih dalam. Lho, ternyata kita bisa keluar dari  zona nyaman—dan baik-baik saja. Lalu, dengan berbagai  pengalaman dan teman baru yang kita dapat, sikap dan pikiran  kita menjadi lebih terbuka dan tak lama kita akan tersadar  bahwa diri ini telah menjadi lebih rendah hati. Kehidupan  kita sebagai mahasiswa tidak akan selalu mudah. Beban tugas  kuliah bercampur kangen rumah, ditambah lagi dengan uang  saku yang pas-pasan pastinya bikin kita selalu gelisah. Namun,  ketika berhasil menghadapi itu semua, kita baru tahu pula  bahwa ternyata kita tidak selemah yang kita kira—atau justru kita bisa menilai batas diri dan kemampuan kita ada di mana.

5. Kesempatan Belajar Bahasa Asing   

Tinggal di negara lain sama artinya Anda akan terpapar  oleh bahasa asing selama hampir 24 jam. Anda memiliki  kesempatan untuk mengasah kemampuan berbahasa asing  dan menguasainya sebelum Anda sadari. Anak lelaki kita  berusia tahun dan sama sekali tak bisa berbahasa Inggris  ketika kami tiba di Melbourne. Nah, orang Australia dikenal  memiliki aksen khas yang membuat suara mereka terdengar  seperti orang bangun tidur ketika bicara. Mereka menyebutnya dengan "lazy accent", dan kata-kata slang banyak sekali  dipakai dalam percakapan sehari-hari. kita sempat khawatir  anak kita sulit berkomunikasi di preschool (selevel TK A kalau di Indonesia).

Tak bisa berbahasa Inggris, eh ketemunya  sama aksen bahasa Inggris yang unik pula. Namun, ternyata  cukup tiga minggu saja waktu yang dibutuhkannya untuk bisa  berkomunikasi dengan bahasa Inggris kepada para edukator di  sekolahnya. Sebab, mau tak mau, suka tak suka, anak kita harus  belajar bahasa Inggris di sini.  kita pun demikian, rasanya bahasa Inggris kita semakin  fasih di sini. kita belajar cara mengungkapkan sesuatu secara  tepat dan benar dengan bahasa Inggris. Salah seorang guru  anak kita di sekolah bahkan bilang bahwa cara bicara kita  sudah mirip sekali dengan orang Australia. Walaupun yah,  sering kali masih pontang-panting memahami aksen khasnya  orang-orang sini, apalagi kalau mereka ngomongnya cepat sekali.

 6. Meningkatkan Kemandirian  

Hidup sebagai mahasiswa di luar negeri tak akan bisa bermanja-  manja. Kemudahan dan fasilitas yang dahulu kita miliki semasa  masih di Indonesia kini tak lagi kita dapat. Misalnya nih, di  Australia tak ada yang namanya laundry, alias jasa cuci-setrika  yang bertebaran di Indonesia. Kalau di Yogyakarta, kita tak  pernah memusingkan urusan cuci-mencuci. Tinggal angkut  sekeranjang baju kotor ke laundry langganan, lalu ambil baju-  baju itu dalam keadaan bersih dan wangi setelah sekitar 2—3  hari (bahkan kadang diantar oleh pegawai laundry). Cukup  bayar Rp3.500—5.000 per kilogram, kita mendapatkan baju  bersih setiap hari.

Di Melbourne? Mana bisa begitu! Semua baju kotor harus  kita cuci dan setrika sendiri. Ada, sih, tempat laundry umum,  isinya jejeran mesin cuci dan pengering yang dioperasikan  dengan uang koin, tetapi tetap saja harus menyetrika sendiri.  Kalaupun ada jasa laundry yang bisa mengerjakan baju  kotor sampai ke tahap setrika, jenis penyedia jasa ini adalah  professional dry cleaner yang bayarnya mahal. Itu baru urusan  mencuci. Belum lagi memasak serta mengurus rumah dan  anak. Di sini tidak ada asisten rumah tangga. Semua aktivitas  itu, ya, harus kita yang mengerjakannya.

7. Memperkuat Keterampilan Adaptasi, Komunikasi,  Dan Kreativitas  

Berkuliah di negara lain akan mengasah kemampuan kita  menyesuaikan diri dan berkomunikasi dengan sekitar. Setiap hari ada orang dan informasi baru yang kita temui. Intuisi  kita dalam menyelesaikan masalah juga menjadi lebih tajam.  Mari ambil contoh penggunaan transportasi publik. Di negara  bagian Victoria, sistem transportasinya sebenarnya cukup  terintegrasi dan mudah dipahami. Semua informasi jadwal dan  moda transportasi yang dibutuhkan untuk berpindah tempat  terangkum dalam sebuah aplikasi yang diinstal di ponsel.

Namun, tetap saja karena semua serbabaru untuk kita, ada  banyak adegan nyasar yang kita alami saat awal-awal berada  di sini (sekarang juga masih suka nyasar, sih, hehe).  Akan tetapi, nyasar itu membuat otak kita terlatih berpikir taktis karena mau senyasar apa pun kita tetap harus pulang ke  rumah, kan, entah bagaimana caranya. kita jadi mempelajari  lebih dalam lagi sistem transportasi tersebut, mencari rute  paling efisien agar bisa kernbali ke rumah. Selain itu, sebagai  mahasiswa kreativitas kita juga akan terpancing saat harus  menyelesaikan tugas yang datang susul-menyusul pada waktu  yang tak terlalu longgar.

8. Meningkatkan Peluang Karier  


"Every student who wants to succeed in the global economy  should study abroad," demikian kalimat pertama yang  tertulis dalam buku A Student Guide to Study Abroad. Daniel  Obst, Presiden sekaligus CEO American Field Services  (AFS) Intercultural Program menekankan hubungan antara  pengalaman kuliah di luar negeri dan kemudahan kita mencari  posisi di tengah persaingan kerja. Dengan memiliki ijazah dari perguruan tinggi di luar negeri, nilai dan daya saing kita  saat mencari kerja menjadi lebih tinggi. Setidaknya, kita sudah  memiliki pengalaman unik yang mungkin tidak dimiliki oleh  orang lain.  Tak hanya itu, wawasan akademik maupun praktik kita  juga lebih luas. Kita sudah menyaksikan matahari terbit dan  terbenam dari belahan dunia lain, lho, dan orang lain belum  tentu pernah mengalaminya. Maka, pintu masuk ke karier yang  lebih baik pun terbuka lebih lebar untuk kita.

 9. Berteman Dengan Orang Dari Belahan Dunia Lain  

Satu hal yang sangat kita syukuri dengan menjadi mahasiswa  di luar negeri adalah kita berkesempatan menjalin  persahabatan dengan orang-orang dari belahan dunia lain.  kita berkawan dengan mahasiswa dari Tionghoa, Hong Kong,  Vietnam, Inggris, Iran, India, dan sebagainya. Kapan lagi kita  bisa mengalami hal ini? Ya, bisa sih, kalau kita ikut program  pertukaran pemuda ke luar negeri atau semacamnya. Akan  tetapi, intensitasnya berbeda. Minimal seminggu sekali selama  dua tahun kita bertemu orang-orang dari belahan dunia lain  dan berinteraksi dengan mereka, berdiskusi di ruang kelas,  saling curhat soal tugas, dan mengobrol tentang hal-hal ringan,  tetapi bermakna soal kebiasaan keluarga masing-masing. Lebih dari itu, jika kita bisa merawat persahabatan ini dengan baik,  akan tercipta koneksi antara kita dan mereka. Peluang untuk  bekerja sama pada level internasional pada masa depan pun terbuka lebar.

10. Bisa Jalan-Jalan  

 Ini bonus paling menyenangkan dari berkuliah di negeri orang.  Kita punya kesempatan untuk jalan-jalan dan mengeksplorasi  berbagai tempat menarik. Ada dua Iiburan panjang di dalam  kalender akademik perguruan tinggi Australia, yaitu Iibur  akhir semester ganjil maupun genap yang biasanya bertepatan  dengan musim dingin dan musim panas. Liburannya tak  tanggung-tanggung: bisa sampai dua bulan penuh. Nah, salah  satu yang bisa kita lakukan untuk menghabiskan waktu Iiburan  sepanjang itu, ya, jalan-jalan! Namun, tentu saja acara jalan jalan ini bisa dilakukan kalau kita bisa berhemat dan menabung  dahulu sebelumnya. Jalan-jalan clan traveling kan, butuh biaya.

Kalau kita boleh menambahkan satu alasan lagi mengapa  kita kuliah ke luar negeri, adalah kesempatan untuk merasakan  sistem pendidikan yang berkualitas, baik di level universitas  maupun nasional. Misalnya, sebagai mahasiswa di Monash  University, Victoria, kita mendapat banyak fasilitas terutama  dalam hal akses perpustakaan dan database buku atau artikel  jurnal yang kita perlukan untuk mengerjakan tugas. kita bisa  mengunduh atau meminjam buku elektronik bermacam judul, juga mengakses artikel jurnal dari bergudang-gudang database  referensi akademik di seluruh dunia dan lintas bidang.

Jika  ada buku yang kita perlukan untuk mengerjakan tugas, tetapi  ternyata tak tersedia di perpustakaan, kita bisa memesan  buku tersebut agar dibeli oleh perpustakaan dan kelak kita  bisa meminjamnya. Sistem informasi perpustakaannya pun terintegrasi. Jika ada buku yang tak tersedia di perpustakaan  kampus kita, tetapi tersedia di kampus lain, kita bisa meminta  buku yang kita inginkan untuk dikirimkan ke kampus kita  untuk kemudian kita pinjarn.  Secara umum, bagi kita berkuliah di luar negeri sangatlah  layak untuk dicoba. Keluar dari kehidupan kita saat ini bukan  berarti kehilangan semuanya. Justru, kita bisa membawa  pulang sesuatu yang baru yang dapat kita gunakan untuk  memperbaiki kehidupan lama kita di Indonesia.










0 Response to "10 Alasan Mengapa Kita Harus Kuliah Di Luar Negeri "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel