Pengalaman Para Pemenang Beasiswa ke Luar Negeri (Bagian 1)

beasiswa s2 2019 

Anita Sartika Dewi - Monash University

Belajar ke luar negeri ini erat hubungannya dengan disiplin ilmu  yang saya tekuni yaitu tentang negara khususnya institusi. Tujuan  saya salah satunya adalah mempelajari dan mendalami program  yang cukup berkualitas untuk bidang studi saya. Di samping itu,  karena sudah jadi ibu dari dua orang anak yang menjelang remaja,  saya berharap untuk selalu bisa dekat dengan keluarga (anak dan  suami) maka saya memilih Australia yang memungkinkan keluarga  serta suami ikut dan bekerja.  Saya amati yang terjadi jika suami tidak bekerja sering kali  menjadi masalah domestik tidak saja karena materi, tetapi juga  karena pertanyaan yang sering diajukan sesama orang Indonesia  baik di negara tujuan atau di dalam negeri. 

Saya mendapatkan beasiswa master dari AUSAID dan Ph.D.  dengan beasiswa Dikti. Sebelumnya saya membuat persiapan  dengan mempelajari English for Specific Purpose, pengenalan  dengan kultur akademis di negara tujuan dan orientasi kehidupan  tempat tersebut. Perihal statement of purpose, saya menuangkan  saja apa yang memang jadi tujuan saya belajar, tidak muluk-muluk  dan mencoba realistis dengan apa yang nantinya feasible untuk  dilakukan setelah kelar studi. Meminta orang Iain untuk membaca  study objective saya sebelum submit aplikasi juga sangat  membantu. Ini tidak harus yang lebih fasih bahasa Inggris/bahasa  asing yang digunakan dalam formulir aplikasi, karena yang saya  butuhkan adalah masukan dari perspektif yang Iain, misalnya  apakah yang kita tulis tersebut masuk akal, logis flownya, bisa  dimengerti, dan sebagainya. 

Sistem administrasi maupun akademiknya sangat tertata, dituntut  untuk benar-benar menjadi independent learner, iklim kampus dipermudah karena kita diundang sebagai "tamu" negara yang  bersangkutan. Biasanya bagi yang sudah menikah tidak langsung  membawa keluarganya karena akan mempersiapkan segala  sesuatunya sebelum anggota keluarga menyusul. Sebenarnya jika  kita sudah memiliki pengalaman dan tahu apa yg diinginkan akan  lebih mudah menuliskan statement of purpose itu, jadi nggak  masalah. 

Yang penting kita harus fokus mau apa dan akan ke  mana nanti setelah selesai kuliah, plus tentu saja kita harus  menyebutkan pengalaman yang kita miliki untuk menambah bobot  pertimbangan mereka memberikan beasiswa kepada kita.  Penggunaan teknologi informasi di universitas di Jerman sangat  maksimal, berbeda dengan di Indonesia. Semuanya jadi mudah,  misalnya mendaftar mata kuliah, mendaftar ujian, memperpanjang  buku di perpustakan, dan sebagainya, semuanya menggunakan  akses teknoloqi vanq memudahkan kita melakukan semuanva secara mandiri. Walaupun demikian, saya pada awalnya  mengalami hambatan utama dari segi bahasa karena kuliah  menggunakan bahasa Jerman sementara belajar bahasa itu baru  6 bulan (dari nol di Jerman) dan langsung terjun bebas kuliah  dengan bahasa Jerman. 

Cara mengatasinya, ya, harus  mempelajari bahasa Jerman juga selama kuliah berlangsung  (kelas khusus bahasa) dan dalam perkuliahan sendiri. Kita perlu  konsentrasi penuh menyimak profesor atas teori tertentu, dan jika  ingin tahu lebih lanjut di rumah kita harus membuka referensi  dengan bahasa Indonesia atau Inggris. Tip saya buat teman-  teman adalah: toleransi dengan tetap memegang prinsip dan  keyakinan kita, belajar keras dan tekun terus tunjukkan juga kita  punya kelebihan dan bangga sebagai orang Indonesia sehingga  orang lain pun menghargai kita dan kita bisa promosi Indonesia  juga. 

Ghofar Ismail  - Memenangi Chevening dan Mombusho

Saya punya banyak alasan mengapa saya terobsesi ingin  sekolah di negara maju. Tiga di antaranya adalah, pertama, sejak  kanak-kanak saya tertarik dengan kemajuan negara Barat dan Tentunya dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang  asing dengan bahasa ibu mereka akan memberikan nilai tersendiri  buat kita dan bangsa Indonesia. Hasil dari interaksi ini sangat  banyak bahkan endless. Ketiga, saya berharap ilmu yang berhasil  digali dari universitas-universitas maju di negara maju dapat  memberikan kontribusi untuk pembangunan Indonesia. Sebagai  calon pemimpin Indonesia, komitmen ini saya rasa sangat penting.  Saya mengandalkan sponsor pemerintah negara pengundang  dalam bentuk beasiswa. Saya pernah menerima: Beasiswa  Mombusho (Mendiknas Jepang) dan Chevening Scholarship (UK). 

Jepang. Tidak saja oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi  mereka, tetapi juga sistem sosialnya yang menunjang pencapaian  semua bidang. Obsesi itu begitu kuat tertanam di diri saya untuk  melihat, mendengar, dan merasakan secara langsung kehidupan  mereka. Kedua, sejak lama saya tertarik dengan bahasa asing.  Setelah mempersiapkan diri secara mental dan substantif tentang  riset, saya hanya mempersiapkan hal-hal teknis seperti: pakaian  dingin, makanan Indonesia yang diawetkan, dan sedikit obat-  obatan ringan. Hal pokok pertama yang harus dipastikan pada  awal kedatangan di luar negeri adalah tempat tinggal, makanan,  cuaca, baru kemudian kampus. 

Dapat merampungkan urusan  pokok di atas sebelum keberangkatan tentunya akan sangat  dianjurkan.  Sesuai dengan bidang saya, yaitu International Relations, saya  mengaitkan spesialisasi bidang yang akan saya dalami dengan  kontribusi bagi Indonesia (pada umumnya pembangunan  Indonesia). Penyusunan statement of purpose harus ditulis dalam  bahasa Inggris yang baik. Secara substantif isi harus logis,  realistis, membumi, dan tidak terlalu muluk-muluk. Menurut  saya, nilai-nilai tersebut yang akan menjadi poin penting  pertimbangan panitia seleksi. Satu hal lain yang  juga saya perhatikan adalah keterkaitan antara negara tujuan belajar dengan  riset saya. Mengingat spesialisasi saya adalah diplomasi dan  politik luar negeri, maka saya tekankan bahwa riset saya dapat  memberikan kontribusi bagi peningkatan hubungan kerja sama  antara Indonesia dan negara tujuan. Pada kenyataannya,  pernyataan ini benar dan dapat diterima logika. 

Saya sangat terkesan dengan keseriusan Jepang membangun  center of excellence mereka, yaitu kampus. Fasilitas kampus dari  kualitas profesor, perpustakaan, kegiatan ekstra, olahraga hingga  kantin, semua seperti terkoordinasi untuk satu tujuan, yaitu  menunjang "pembangunan manusia". Dari fasilitas yang  disebutkan di atas ada 3 hal pokok yang sulit didapatkan di  universitas mana pun di Indonesia: hubungan Profesor dengan  mahasiswa sangat dekat, fasilitas perpustakaan yang luar biasa  tidak hanya koleksinya, tetapi juga pelayanannya yang baik, dan  metode kuliah dan diskusi konstruktif yang hidup. 

Hambatan pada masa-masa awal adalah bahasa Jepang,  makanan dan (mungkin) hambatan psikologis bagi orang yang  tidak biasa berinteraksi dengan orang asing. Namun, semua dapat  diatasi seiring dengan bertambahnya kemampuan bahasa kita  melalui kelas bahasa dan pergaulan kita dengan mahasiswa Iain.  Studi di luar negeri (apalagi dengan beasiswa) adalah hal yang menyenangkan. 

Tip saya:  
I. Nikmatilah masa-masa tersebut dengan menjelajahi seluruh  aspek hidup di negara tersebut.  
2. Tanamkanlah untuk mengambil hal-hal positif yang dapat  dibawa pulang ke Indonesia.  
3. Jangan biarkan Anda tenggelam dan terbawa arus mereka.  Anda harus tetap mempunyai identias yang kuat sebagai bangsa  Indonesia. Sikap ini akan sangat dihargai di negeri asing.  Semoga bermanfaat, good luck. Thank you.

0 Response to "Pengalaman Para Pemenang Beasiswa ke Luar Negeri (Bagian 1)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel