Pengalaman Para Pemenang Beasiswa ke Luar Negeri (Bagian 2)

beasiswa s1 

Heny Chrysanti - Mahasiswa S-2 Arsitektur Universitas di Italia.

Setelah lulus dari Sl Arsitektur Ull Yogyakarta, saya sempat  bekerja beberapa saat ketika akhirnya memutuskan untuk  mengambil program master. Karena saya saat ingin memperluas  wawasan saya dan mempunyai pengalaman multikultural maka  mencari beasiswa ke beberapa negara menjadi pilihan saya.  Pengalaman multikultural bagi saya sangat berharga untuk  mempersiapkan diri saya menjadi salah satu world citizen, Iagi  pula sangat disayangkan Indonesia jarang memberikan program ditanggung oleh saya sendiri. Ketika mengajukan beasiswa, saya  juga membuat personal statement dengan banyak membaca  contoh-contoh teks, bertanya kepada teman-teman lain yang  sudah berhasil memenangi beasiswa.

Belajar di luar negeri sangat mengesankan bagi saya karena  hubungan antara dosen dan mahasiswa di sini sangat terbuka  ketika diskusi atau bertukar pendapat. Para dosen dan teman-  teman sesama mahasiswa bahkan terkadang memberi perhatian  lebih baik kepada para mahasiswa asing seperti saya.  Tantangan terberat bagi saya adalah bahasa karena semua  program di sini diajarkan dengan bahasa Italia. Akan tetapi saya beasiswa untuk bidang studi yang saya dalami.  Program beasiswa yang saya ikuti adalah Borsa Specialistica dari  Universitas Della Calabria dengan subjek: Filosofia della  communica zione e communicazione publica mencakup semua  kebutuhan hidup di Italia, tetapi biaya transpor ke negara ini  terus-menerus berlatih setiap hari.  Saya sarankan kepada teman-teman yang sedang berjuang  dengan beasiswanya, persiapkan mental kalian sebaik-baiknya  dan ingat bahwa kita adalah wakil Indonesia di negara lain,  tunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang ramah.  Make friend as many as possible!!

Heni Nurhayati Bazin - Nuffic Belanda

Waktu itu saya ingin sekolah ke luar negeri (LN) karena  berhubungan dengan pekerjaan yang saat itu adalah dosen  sebuah perguruan tinggi (P T). Dengan belajar di LN, diharapkan  saya mendapat ilmu yang lebih maju dan mendapatkan hubungan  dengan universitas di LN sehingga dapat menyokong  pertumbuhan dan perkembangan fakultas di universitas di dalam  negeri yang bersangkutan. Alhamdulillah, saya mendapatkan  beasiswa dari pemerintah Belanda lewat NUFFIC.  Persiapan surat-surat (paspor, izin ke LN karena status pegawai  negeri), visa sudah diurus oleh pemberi beasiswa. Selebihnya  persiapan pribadi: mengurus tempat tinggal di LN dengan dibantu oleh universitas tujuan di LN plus persiapan mental dan fisik.

Ketika membuat statement of purpose, saya cukup menuliskan  apa yang menjadi tujuan belajar di LN (mencakup bagaimana kita  menggunakan hasil belajar di LN tersebut nantinya) dan apa  kualitas kita untuk bisa berhasil.  Kesan saya dengan kehidupan akademis di LN, kita dituntut  untuk mandiri, harus banyak berdiskusi dan kerja kelompok  dengan siswa yang lain, banyak menggunakan perpustakaan,  kuliah dosen saja tidak akan cukup (justru dosen memotivasi  siswa untuk selalu mencari lebih banyak informasi lewat buku,  jurnal, internet, dan lain-lain untuk kemudian didiskusikan). Saya  merasa bersyukur tidak mengalami hambatan berarti selama studi.  Yang penting harus aktif mencari informasi, banyak bertanya  karena di LN kalo kita nggak aktif, tidak ada yang datang  memberikan informasi secara cuma-cuma. Pendeknya, kitalah  yang harus selalu aktif menjemput bola.

Teti Zubaidah -  Daad Jerman 

Sebenarnya sudah sejak tamat SMA saya ingin ke Jerman  karena tertarik dengan teknologi. Untuk itu, saya rajin dan sering  mencoba-coba mencari kemungkinan-kemungkinan,  tetapi  memang belum rezekinya.  Akhirnya, pada 2005 saat itu saya sedang giat-giatnya merintis  riset geomagnetic (medan magnet bumi) di Pulau Lombok, NTB,  dan saya ingin sekali mengembangkannya.  Dengan bantuan internet, akhirnya saya menemukan website  yang memberi informasi berharga bahwa Jerman memang sedang  mengangkat riset geomagnetik dan gravity sebagai salah satu  program prioritas DFG (Deutsche Forschung Gemeinschaft),  semacam LIPI atau BPPT di Indonesia. Pada Juli 2000 Jerman  meluncurkan satelit CHAMP, dengan misi utama recovery  geomagnetik dan gravity global, direncanakan selama kurun waktu  5—10 tahun. Sekarang satelitnya masih terus mengorbit,  kemungkinan sampai akhir tahun ini.

0 Response to "Pengalaman Para Pemenang Beasiswa ke Luar Negeri (Bagian 2)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel